Sunday, November 23, 2014

Melangitkan Mimpi Jadi Petani

Jadi petani? Why not?

Tahun 2011, pertama kalinya Mas Adi mencoba budidaya lele. Tidak banyak bibit yang ditebar, hanya sekitar 200 bibit lele sangkuriang. Karena masih tahap coba-coba dan minim informasi, usaha yang kami lakukan waktu itu tidak membuahkan hasil (uang). Panennya, sih, berhasil. Ikan-ikannya besar-besar dan gemuk karena baru dipanen setelah lewat masa panen. Tapi tidak kami jual, melainkan dibagi-bagikan ke tetangga dekat rumah hehehe.

Setelah itu usaha tersebut tidak kami lanjutkan lagi. Mas Adi sibuk dengan pekerjaannya dan pergi terus keluar kota. Saya sendiri makin sibuk dengan anak-anak dan urusan lain. Praktis mimpi kami untuk merintis karir menjadi petani, terpinggirkan. Kami tidak melupakan karena cukup sering juga kami berdiskusi untuk melanjutkan lagi mimpi tersebut. Tapi diskusi tinggal diskusi, tidak kunjung terealisasi. Bahkan karena kesibukan kami pun, kami terpaksa menghibahkan sebagian besar hewan-hewan peliharaan di rumah. Siapa yang mengurus kalau Mas Adi jarang ada di rumah? Saya sendirian tentu saja tidak sanggup.

Sampai kemudian, Mas Adi memutuskan untuk memulai lagi usaha budidaya lele-nya. Siapa, sih, yang gak pengin punya usaha sendiri? Apalagi kesempatannya ada. Akhirnya setelah sedikit demi sedikit mengumpulkan modal, bersama Malwvi (kerabat dekat kami), Mas Adi mulai dari nol. Kali ini lebih enak karena Mas Adi punya partner. Paling gak, saat Mas Adi sibuk dengan pekerjaan kantornya ada Malwvi yang bisa mengurus. Saya juga tetap bisa mengurus anak-anak dan ina inu lainnya dengan tenang.

Dibandingkan tahun 2011, kali ini persiapannya sudah lebih matang. Mas Adi dan Malwvi membuat rencana dan target yang akan dikerjakan. Tapi juga gak ngoyo-ngoyo banget. Kalau kata petani ikan yang sudah pengalaman, lebih baik mulai pelan-pelan sambil belajar, daripada langsung besar tapi tidak dikelola dengan baik. Lagipula sebagai pemain baru, kami harus mengenali pasarnya dulu. 

Setelah semua persiapan dan modal dirasa cukup, kolam terpal berukuran 5x3,5 meter mulai dibangun. Rencananya kami akan mulai dengan 2 ribu bibit lele. Menurut ukuran petani lele, jumlah segitu, sedikit, sih. Karena kalau mengikuti hitung-hitungan ideal, 2 ribu bibit lele akan menghabiskan 200 kg pakan selama 2 bulan dan berat saat panen 2 kwintal. Hitung-hitungan ideal ini diambil dari banyaknya pakan yang digunakan.

A photo posted by Sary Melati (@saryahd) on


A photo posted by Sary Melati (@saryahd) on

Karena belum punya pegawai, selama 2 bulan kami sendiri yang mengurus dan memberi makan lele-lele itu. Kalau Mas Adi sedang ke kantor, saya atau Moses yang kasih makan. Kalau Mawlvi lagi datang menginap, dia yang mengurusi barengan Moses. Meskipun jadi ketambahan tanggung jawab baru, tapi semuanya senang. Apalagi Moses. Dia paling semangat dan selalu sigap memberi makan sesuai jadwalnya.

Suatu hari, sepulang mengantar Moses sekolah, saya terkejut karena kolam lelenya bocor besar sekali. Ternyata si Don (anjing labrador hitam peliharaan kami), penasaran dan melongok-longok ke kolam. Terpalnya terkoyak cakarnya Don. Jadi ya, gitu deh :))) Untungnya bisa cepat diperbaiki meskipun saat itu Mas Adi sedang tugas keluar kota.

Perkembangan lele sangat cepat. Dalam waktu 2 bulan saja, kolam langsung kelihatan "penuh" banget sama ikan-ikan. Apalagi saat dikasih makan, mesti siap-siap terkena semburan air kolam :D

A photo posted by Sary Melati (@saryahd) on


Setelah mendekat masa panen, tantangan selanjutnya adalah mencari pembeli. Ternyata banyak sekali liku di pasar penjualan ikan. Mas Adi itu sampai blusukan ke pasar juga loh. Ketemu preman, ketemu pengepul, cari info kesana sini. Alhamdulillah, akhirnya setelah hujan-hujanan menyusuri jalanan bersama Mawlvi, mereka bertemu juga dengan juragan pengepul ikan yang klop dan menentukan waktu panen.


Setelah panen pertama ini, banyak ilmu baru yang didapat. Untuk tangga selanjutnya, kami menargetkan bisa membangun kolam yang lebih besar dan menambah jumlah bibit lele yang ditanam. Selain itu Mas Adi juga berencana untuk membuat kolam pembibitan sendiri. Kolamnya pembibitannya udah jadi. Kolam pembesarannya sedang dibangun. Mohon doanya supaya semua lancar, ya ... ^_^

28 comments:

  1. wahhh mupeng! tertarik juga tuh punya kolam lele atau ikan mas, aahhh baru menghayal saya mah, selamat mba! Ganbate!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiih :)

      Semangat juga mewujudkan khayalannya, ya ^_^

      Delete
  2. Senang membaca artikel yang renyah ini. Dan, tentu saja saya suka dengan judulnya :)

    ReplyDelete
  3. Wahhh seru banget ya mak... enaknya pny lahan yg luas y makte ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Neng. Asal mau kotor-kotoran aja hihihi

      Delete
  4. Aarkkkk mupeng juga...seru juga ya mak anak2 ikut ngasih mkn lele..selamat mak,moga pembibitan dan semuanya makin lancarrr :)

    ReplyDelete
  5. Dulu aku juga punya kolam lele, Mak. Tapi gagal karena yang ngurus nggak telaten. Masih pingin mencoba lagi. Sukses ya :)

    ReplyDelete
  6. salut mak, aku juga kepengen punya kolam lele kelak, jadi petani ga ada salahnya malah kalo telaten bisa jadi swasembada pangan keluarga plus menghasilkan uang. Btw, itu lngsg berhasil ya mak? keren ya, ada temen cerita malah gagal di awal banyak yg mati, meliharanya anakan yg umur berapa mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangka panjangnya memang ingin swasembada pangan.

      Ada juga yang mati, Mak, tapi masih terkendali. Makanya mulai pelan-pelan sambil belajar, Mak :)

      Waktu tebar bibit, umur semingguan.

      Delete
  7. wow...keren mak....budidaya lele....aku suka leleeeee....

    ReplyDelete
  8. Wah senang bacanya, berasa kolam milik sendiri. Hehehee... Semoga cita-citanya tercapai. Ada kolam pembibitan, ada kolam pemancingan dan saung resto :D

    ReplyDelete
  9. asyiknya...jadi kepikiran juga ingin punya kolam ikan :)

    ReplyDelete
  10. Aaaaakkk mau jugaaaak.. baiklah.. kalo udah sukses jadi petani sayur, akuh mau tani lele >.<

    ReplyDelete
  11. Lelenya euyyyyy...seger benerrrr mak, lega dah tuh makannya, gede-gede. Makasih mak sary, udh menularkan virus budidaya lele kepada diriku .. : )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kalo udah ketularan virus, udah terealisasi dong, mak? Good luck, ya ^_^

      Delete
  12. Jadi petani bukan hal yang memalukan kok...

    ReplyDelete
  13. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami sboplaza.com ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung ke blog kami :)
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar anonim, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)